Selamat datang di Blog Reyog

Teknologi budidaya Kambing

Kamis, 30 Mei 20130 komentar

Kambing merupakan salah satu jenis ternak yang cukup digemari dan telah menyatu dengan kehidupan masyarakat, namun skala usahanya masih terbatas dengan sistem pemeliharaan dan perkembangbiakan yang masih tradisional. Meskipun secara tradisional telah memberikan hasil yang lumayan, jika pemeliharaannya ditingkatkan (menjadi semi intensif atau intensif), pertambahan berat badannya dapat mencapai 50-150 gr/hari atau dilakukan pemerahan susu, maka hasilnya akan meningkat dan dapat dijadikan cabang usaha tani ataupun usaha pokok. Ada tiga hal pokok yang harus diperhatikan dalam usaha ternak kambing, yaitu : harus mengenal bangsa kambing dan ciri-ciri kambing untuk bibit, bahan pakan dan cara pemberiannya, dan tata laksana. 

Pemeliharaan ternak kambing yang sangat mudah karena tidak membutuhkan keterampilan yang khusus, sehingga peternak barupun mampu secara cepat belajar manajemen pemeliharaan. Usaha ternak di pedesaan, tidak memerlukan modal yang besar, karena dapat dilakukan dengan sistem gaduhan (bagi hasil anak), ataupun dengan pembelian induk yang tidak terlalu mahal bila dibandingkan ternak besar serta siklus perputaraan modal relatif singkat. Penyediaan sumber pakan hijauan yang ada di pedesaan umumnya cukup berlimpah seperti rumput lapangan, leguminosa, limbah pertanian (limbah sayuran, tanaman pangan, perkebunan), dan lainnya. Selain itu, dalam berusaha ternak kambing/domba tidak perlu memiliki lahan yang luas, hanya diperlukan kandang (sesuai dengan jumlah yang dipelihara), pakan yang dapat diambil dari kebun, lapangan umum, atau di gembalakan di lahan-lahan umum (lapangan, dibawah perkebunan dan lainnya).

KATA PENGANTAR
foto KA BPTP Sul-Sel
Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa, Petunjuk Teknis Teknologi Budidaya Kambing yang diterbitkan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi Selatan selesai disusun. Sulawesi Selatan merupakan salah satu daerah pengembangan kambing potong, khususnya kambing lokal. Namun, kendala dalam budidaya kambing masih sangat dirasakan petani dilapangan. Salah satunya  adalah laju pertumbuhan kambing belum optimal. Hal ini ditandai dengan masih rendah bobot badannya, khususnya kambing lokal. Oleh karena itu, diperlukan media untuk penyebaran informasi teknologi budidaya kambing, salah satunya melalui pembuatan Petunjuk Teknis ini.
Mudah-mudahan Petunjuk Teknis ini bermanfaat dan tentu saja dalam penyusunannya masih jauh dari kesempurnaan karena itu saran dan masukan sangat kami harapkan.
Makassar, Agustus 2012
Kepala BPTP Sul Sel

Dr. Ir. Fadjry Djufry, M.Si

PENDAHULUAN
Kambing merupakan salah satu jenis ternak yang cukup digemari dan telah menyatu dengan kehidupan masyarakat, namun skala usahanya masih terbatas dengan sistem pemeliharaan dan perkembangbiakan yang masih tradisional. Meskipun secara tradisional telah memberikan hasil yang lumayan, jika pemeliharaannya ditingkatkan (menjadi semi intensif atau intensif), pertambahan berat badannya dapat mencapai 50-150 gr/hari atau dilakukan pemerahan susu, maka hasilnya akan meningkat dan dapat dijadikan cabang usaha tani ataupun usaha pokok. Ada tiga hal pokok yang harus diperhatikan dalam usaha ternak kambing, yaitu : harus mengenal bangsa kambing dan ciri-ciri kambing untuk bibit, bahan pakan dan cara pemberiannya, dan tata laksana.
Pemeliharaan ternak kambing yang sangat mudah karena tidak membutuhkan keterampilan yang khusus, sehingga peternak barupun mampu secara cepat belajar manajemen pemeliharaan. Usaha ternak di pedesaan, tidak memerlukan modal yang besar, karena dapat dilakukan dengan sistem gaduhan (bagi hasil anak), ataupun dengan pembelian induk yang tidak terlalu mahal bila dibandingkan ternak besar serta siklus perputaraan modal relatif singkat. Penyediaan sumber pakan hijauan yang ada di pedesaan umumnya cukup berlimpah seperti rumput lapangan, leguminosa, limbah pertanian (limbah sayuran, tanaman pangan, perkebunan), dan lainnya. Selain itu, dalam berusaha ternak kambing/domba tidak perlu memiliki lahan yang luas, hanya diperlukan kandang (sesuai dengan jumlah yang dipelihara), pakan yang dapat diambil dari kebun, lapangan umum, atau di gembalakan di lahan-lahan umum (lapangan, dibawah perkebunan dan lainnya).

MENGENAL BANGSA KAMBING
1. Kambing Kacang
gambar kambing kacang
Kambing ini asli dari Indonesia dan memiliki ciri badan kecil, pendek, telinga pendek, tegak, leher pendek, punggung meninggi, bertanduk, baik jantan atau betina, tinggi badan 55-65 cm dan bobot hidup jantan sekitar 25 kg dan betina sekitar 20 kg
2. Kambing PE (Peranakan Etawah)
gambar
Kambing ini merupakan persilangan kambing Kacang dengan kambing Etawah. Memiliki tanda-tanda antara lain telinga panjang 18-30 cm, bobot hidup dewasa jantan mencapai 40 kg dan betina sekitar 35 kg.
Tinggi punggung berkisar antara 76-100 cm, pada jantan bulu bagian atas dan bawah leher, pundak, lebih tebal dan agak panjang, sedangkan pada betina hanya bagian paha yang lebih panjang. Warna kambing ini bervariasi dari coklat sampai hitam.
3. Kambing Marica
gambar
Kambing Marica banyak terdapat di Pulau Sulawesi, tubuhnya lebih kecil dari kambing Kacang dan diduga masih satu keturunan dengan kambing Kacang.
3. Kambing Gembrong
Kambing ini banyak terdapat di Pulau Bali, tubuh lebih besar dari kambing Kacang dan mempunyai bulu yang panjang terutama yang jantan.
Selain kambing penghasil daging, ada kambing yang digunakan sebagai penghasil susu atau kambing tipe perah. Kambing ini mampu menghasilkan susu walaupun produktivitasnya rendah, namun harga susu kambing lebih mahal dibanding susu sapi. Berikut ini beberapa contoh kambing tipe perah :
  1. Kambing Saanen Kambing Saanen berasal dari Lembah Saanen Switzerland, memiliki tanda-tanda baik jantan maupun betina tidak bertanduk, warna putih atau krem pucat/muda, hidung, telinga dan ambing belang hitam, dahi lebar, telinga sedang dan tegak.
    gambar Kambing Saanen
    Gambar 1. Kambing Saanen
  2. Kambing Etawah (Jamnapari) Kambing Etawah asli atau dikenal dengan kambing Jamnapari berasal dari daerah Jamnapari India dengan ciri-ciri hidung melengkung, telinga panjang (30 cm) terkulai, kaki panjang dan berbulu panjang pada garis belakang kaki, warna bulu belang hitam putih atau merah, atau coklat putih. Pada jantan dan betina bertanduk dengan tinggi badan jantan dewasa mencapai 90-127 cm, dan yang betina dewasa antara 76-92 cm. Bobot badan jantan dewasa sekitar 68-91 kg dan betina dewasa 36-63 kg. Rataan produksi susu ± 3 liter/ekor/hari dengan ambing relatif besar dan panjang seperti botol.
    Gambar Kambing Etawah
    Gambar 2. Kambing Etawah (Jamnapari)
  3. Kambing Alpine Kambing ini ada yang bertanduk dan ada yang tidak bertanduk, tubuhnya besar dan tingginya sama dengan kambing Saanen. Warna bulu bermacam-macam dari putih sampai kehitam-hitaman dengan warna muka ada garis putih di atas hidung. Kambing ini sebagai kambing penghasil susu.
    Gambar Kambing Alpine
    Gambar 3. Kambing Alpine
  4. Kambing (Anglo)-Nubian Kambing Anglo Nubian atau sering disebut kambing Nubian memiliki bulu yang pendek, berkaki panjang dan dapat menyesuaikan diri di daerah panas. Kambing ini merupakan kambing yang subur (beranak kembar) dan ada yang bertanduk dan ada yang tidak bertanduk.
    Gambar Kambing (Anglo)-Nubian
    Gambar 4. Kambing (Anglo)-Nubian
Untuk memilih kambing calon bibit, sebaiknya peternak mengenal ciri-ciri calon bibit baik pada jantan maupun betina. Calon bibit jantan hendaknya memiliki tubuh yang sehat, besar (sesuai umur), relatif panjang dan tidak cacat. Dada dalam dan lebar, dengan kaki lurus dan kuat serta tumit tinggi. Penampilan gagah, aktif dan besar nafsu kawinnya. Buah zakarnya normal (2 buah sama besar), alat kelamin kenyal, dan dapat ereksi. Kambing yang digunakan untuk bibit sebaiknya dari keturunan kembar. Bulu bersih dan mengkilat. Seperti halnya pada jantan, betina calon bibit juga harus sehat, tidak terlalu gemuk dan tidak cacat, kaki lurus dan kuat dan alat kelamin normal. Sebaiknya dipilih kambing yang mempunyai sifat keibuan dan memiliki ambing normal (halus, kenyal, tidak ada infeksi). Sebaiknya dipilih dari keturunan kembar. Bulu bersih dan mengkilat.
Dalam memilih calon bibit, hindari ternak cacat atau tidak normal antara lain rahang atas dan bawah tidak rata, tanduk tumbuh melingkar menusuk leher, hanya mempunyai satu buah zakar, atau mempunyai dua buah tapi besarnya tidak sama, terdapat infeksi atau pembekakan pada ambing/buah susu (untuk betina), kaki berbentuk huruf X atau pengkor, buta atau rabun, untuk mengetahui ternak buta atau tidak, maka tunjuk-tunjuklah dengan jari telunjuk didepan matanya, apabila ada reaksi mengedipkan mata, maka ternak tidak buta, ternak majir/mandul.
Selain itu, peternak juga harus mampu menentukan umur kambing. Pendugaan umur dapat dilakukan dengan melihat jumlah gigi seri tetap yang tumbuh. Bila seri tetap belum ada, maka kambing masih berumur kurang dari satu tahun. Apabila sudah tumbuh gigi seri tetap sebanyak satu pasang (dua buah), maka diperkirakan berumur 1-2 tahun. Bila terdapat dua pasang berumur 2-3 tahun, tiga pasang berumur 3-4 tahun dan empat pasang berumur antara 4-5 tahun. Apabila gigi seri tampak sudah mulai aus atau lepas, maka kambing tersebut sudah berumur lebih dari 5 tahun.
Gambar Kambing Boer
Gambar 5. Kambing Boer sebagai pejantan unggul
Jika akan mengawinkan kambing, maka ternak betina dalam keadaan birahi dan sehat. Ternak kambing jantan dan betina harus dikumpulkan dalam satu kandang kawin. Perkawinan dapat terjadi 2 atau 3 kali tetapi apabila ternak betina tidak mau dikawinkan lagi, berarti ternak betina tersebut telah bunting dan harus dipisahkan dengan ternak jantan.

Ternak betna yang bunting mempunyai ciri-ciri : Nampak lebih besar, lebih gemuk dibagian perutnya, bulu makin mengkilap, ambing susunya makin membengkak dan menjadi besar, begutu pula dengan puting susunya.
PAKAN DAN PEMBERIANNYA
Pakan berguna untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok, seperti produksi (tumbuh besar, gemuk dan susu) dan untuk bereproduksi (kawin, bunting, beranak, menyusui). Pemberian pakan harus sesuai dengan kebutuhannya dan jumlahnya disesuaikan dengan status fisiologis ternaknya. Sebagai patokan umum yaitu 10% bahan segar atau 3% bahan kering dihitung dari bobot badannya. Contoh bila bobot hidup kambing 25 kg maka pemberian hijauan segar sekitar 2,5 kg atau 0,75 kg hijauan kering.

Pakan untuk kambing dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu sumber energi, sumber protein dan sumber mineral. Sumber energi antara lain biji-bijian : jagung, sorghum, dedak padi, dedak gandum, dedak jagung, ketela rambat, singkong, onggok, rumput-rumputan dan jerami padi. Bahan pakan yang merupakan sumber protein antara lain jenis leguminosa glirisidia, turi, lamtoro, centrosema, sisa pertanian seperti : daun kacang, daun singkong, bungkil kedelai, biji kapas, ampas tahu, ampas kecap dan lain-lain. Sebagai sumber mineral dapat ditambahkan garam atau mineral mix. Air minum harus tersedia di dalam kandang.
Hijauan dapat disediakan dengan cara mencari di alam atau dapat dibudidayakan. Penanaman dapat dilakukan di areal yang tidak dimanfaatkan untuk tanaman pertanian, seperti di galengan/pematang sawah pinggir jalan, tanah desa, dilereng atau bahkan dapat ditanam sebagai pagar hidup, dan di area tanam sebagai monokultur.

Berbagai jenis hijauan yaitu rumput (rumput alam, rumput gajah, setaria, rumput benggala, rumput raja dan lain sebagainya). Selain itu jenis hijauan lain yaitu leguminosa (daun, kacang-kacangan, lamtoro, turi, glirisidia, kaliandra, albasia dan lain-lain). Hijauan yang berasal dari sisa hasil panen seperti daun ubi, daun nangka, jerami kacang tanah, jerami kacang kedelai, jerami jagung dan daun pisang juga dapat digunakan sebagai pakan kambing.
gambar
Gambar 6. Pohon Gamal, Pohon Turi dan Pohon Lamtoro
Dalam pemberian pakan hijauan, perlu diperhatikan imbangan antara rumput dan daun leguminosa dikaitkan dengan kondisi fisiologis ternak. Pada kambing dewasa, pemberian pakan rumput dan leguminosa dapat diberikan dengan perbandingan 3:4. Namun bila ternak dalam keadaan bunting, sebaiknya perbandingan 3:2. Lain halnya bila kambing sedang menyusui, perbandingan sebaiknya 1 : 1. Anak kambing lepas sapih diberikan rumput dan daun leguminosa dengan perbandingan 3:2. Hindari pemberian hijauan yang masih muda, jika terpaksa digunakan hendaknya diangin-anginkan selama minimal 12 jam untuk menghindari terjadinya bloat (kembung) pada kambing.
Pakan sebaiknya diberikan 2 kali sehari (pagi dan sore), dan diberikan juga air minum dan garam beryodium secukupnya. Untuk kambing bunting, induk menyusui, kambing perah dan pejantan yang sering dkawinkan perlu ditambahkan makanan penguat dalam bentuk bubur berupa campuran dedak, ampas tahu dan bahan lain yang ada didaerahnya sebanyak 0,5 – 1 kg/ekor/hari.

Bahan pakan berupa hijauan juga dapat diawetkan pada saat hijauan melimpah seperti membuat silase atau hay. Jerami padi, kacang-kacangan, limbah pertanian lainnya juga dapat diawetkan sebagai pakan kambing disaat musim kemarau.
TATA LAKSANA
Kandang
Kandang terbuat dari bahan yang kuat, harga murah dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di lokasi. Kandang harus segar (ventilasi baik, cukup cahaya matahari, bersih, dan minimal berjarak 5 meter dari rumah). Sebaiknya dibuat kandang dalam bentuk kandang panggung dengan sekat yang dapat bongkar pasang dan lantai dari bambu atau papan. Dibelakang kandang dibuat penampungan kotoran dan sisa pakan. Sebagai patokan ukuran luas kandang adalah, jantan dewasa dibutuhkan 1,5m2, betina dewasa 1 m2, betina menyusui 1,5m2,, anak dan kambing muda 0,75m2. Usahakan ada lampu penerang yang dipasang didalam kandang. Selain itu, di dalam kandang juga disediakan tempat pakan dan minum.
kandang panggung
Gambar 7. Model kandang panggung untuk ternak kambing
Model kandang panggung memiliki kelebihan dan kekurangannya. Kelebihan dari kandang panggung adalah kandang menjadi lebih bersih karena kotoran jatuh ke bawah, kebersihan ternak lebih terjamin, lantai kandang selalu kering, kuman dan parasit serta jamur dapat ditekan. Namun demikian beberapa kelemahan dari kandang panggung antara lain biaya relatif mahal, resiko ternak terperosok/jatuh dan kandang memikul beban ternak lebih berat.
Pengelolaan Reproduksi
Diusahakan agar kambing bisa beranak minimal 3 kali dalam dua tahun. Hal-hal yang harus diperhatikan adalah :
  1. Bibit berasal dari induk yang selalu melahirkan kembar
  2. Kambing mencapai dewasa kelamin pada umur 6-10 bulan, dan sebaiknya dikawinkan pada umur 10-12 bulan atau saat bobot badan mencapai 55-60 kg
  3. Lama birahi 24-45 jam, siklus birahi berselang selama 17-21 hari
  4. Tanda-tanda birahi : gelisah, nafsu makan dan minum menurun, ekor sering dikibaskan, sering kencing, kemaluan bengkak dan mau atau diam bila dinaiki. Bila birahi pagi, maka sore atau esok harinya harus dikawinkan
  5. Perbandingan jantan dan betina 1 : 10
  6. Dengan pengelolaan yang baik kambing dapat beranak 7 bulan sekali
    1. Perkawinan kembali setelah melahirkan 1 bulan kemudian
    2. Penyapihan anak dilaksanakan pada umur 3-4 bulan
Mengawinkan Ternak :
Saat yang baik untuk mengawinkan kambing adalah 12-18 jam setelah tanda-tanda birahi muncul/tampak. Untuk menghindari kegagalan perkawinan, campurkan betina birahi dengan pejantan dalam satu kandang. Hindarkan terjadinya perkawinan sedarah/ada garis keturunan yang sama antara kambing jantan dengan betina atau yang masih dekat hubungan kekerabatannya (anak dengan bapak, anak dengan induk, antar saudara kandung).
Ternak melahirkan :
Tanda-tanda induk melahirkan :
  1. Pinggul mengendur
  2. Ambing tampak  besar dan puting susu terisi penuh
  3. Alat kelamin (vulva) membengkak kemerah-merahan dan lembab
  4. Gelisah, menggaruk-garuk tanah/lantai kandang dan sering mengembik
  5. Nafsu makan menurun
Persiapan Perawatan Kelahiran :
  1. Bersihkan kandang
  2. Sediakan alas yang kering dan bersih untuk menyerap cairan yang keluar selama proses kelahiran (jerami, karung goni)
  3. Sediakan jodium tinchure untuk dioleskan pada bekas potongan tali pusar
Proses kelahiran :
  1. Kantong ketuban pecah
  2. Beberapa saat kemudian anak mulai keluar
  3. Setelah anak lahir potonglah tali pusarnya dan oleskan jodium tinchure pada bekas potongannya
  4. Biarkan induk menjilati anak yang baru lahir, jika induk tidak mau menjilati bersihkan cairan yang masih menempel dengan menggunakan kain lap yang bersih dan kering
  5. Bersihkan lubang hidung dan mulut anak kambing yang baru lahir agar mudah bernafas
Perawatan Anak yang Baru Lahir :
  1. Setelah anak lahir maka akan segera menyusu pada induknya
  2. Anak yang tidak segera menyusu dalam waktu 12 jam setelah lahir harus segera diberi susu pengganti kolostrum
Pembuatan Susu Kolostrum Buatan :
Campurkan 0,25 – 1,5 liter susu sapi/susu bubuk dengan 1 sendok teh minyak ikan, 1 butir telur ayam dan setengah sendok makan gula pasir. Berikan dengan cara dicekok 3-4 kali sehari.
Pengendalian Penyakit :
Hendaknya ditekankan pada pencegahan penyakit melalui sanitasi kandang yang baik, makanan yang cukup gizi dan vaksinasi. Penyakit yang sering menyerang kambing adalah : cacingan, kudis (scabies), kembung perut (bloat), paru-paru (pneumonia), orf dan koksidiosis.
Kudis (Kurap/Scabies)
Tanda-tanda : gelisah karena gatal, bulu rontok kulit merah dan menebal. Tempat yang sering diserang muka, telinga, pangkal ekor, leher, dll
Pencegahan : kebersihan dan pemisahan ternak sakit
Pengobatan
  1. Obat tradisional
    • Oli 1 cangkir + cuka 1 sendok makan + belerang yang sudah dihaluskan 1 sendok makan atau 4 siung bawang merah yang sudah dihaluskan, kemudian semua bahan dicampur dan oleskan 2x sehari pada kulit kambing sampai sembuh.
    • Belerang dihaluskan 3 sendok makan + 1 sendok makan minyak goreng oleskan 2x sehari sampai sembuh.
  2. Obat pabrikan Suntik dengan Ivermectin secara sub cutan (dibawah kulit).
Cacingan :
Penyebab : cacing gilig, cacing pipih dan cacing pita
Tanda-tanda : kambing semakin kurus, bulu berdiri dan kusam, nafsu makan berkurang, kambing terlihat pucat, kotoran lembek sampai mencret.
Pencegahan : Jagalah kandang tetap bersih dan kering, Buanglah kotoran, sampah dan sisa pakan jauh dari lokasi kandang atau dibuat Kompos, Jangan menggembalakan kambing pada pagi hari dan pada satu area (usahakan berpindah-pindah), Jangan berikan rumput yang masih berembun, Sabitlah rumput 2-3 cm di atas permukaan tanah.
Pengobatan :
  1. Obat tradisonal
    • Daun nanas yang dikeringkan dan dihaluskan, kemudian ditimbang 300 mg untuk 1 kg berat badan kambing, dicampur air, selanjutnya diminumkan dan diulang 10 hari sekali (jangan diberikan pada ternak bunting).
    • Daun nanas segar dihilangkan durinya, ditimbang 600 mg untuk 1 kg berat badan kambing, kemudian diberikan pada kambing dan diulang 10 hari sekali (jangan diberikan pada ternak bunting).
  2. Obat pabrikan Biasanya menggunakan albendazole, valbanzen atau ivermectin yang diulang setiap 3 bulan sekali.
Kembung perut (Bloat/Thympani) :
Penyebab : gas yang timbul oleh makanan (rumput muda)
Tanda-tanda : perut sebelah kiri membesar, napas pendek dan cepat, tidak mau makan
Pencegahan : jangan diberi rumput muda.
Pengobatan : berikan larutan gula merah dan asam jawa, keluarkan gas dengan cara mengurut-urut perut kambing. Apabila ada ternak yang sakit, harus segera dipisahkan dari kelompoknya agar yang lainnya tidak tertular.
Diare :
Penyebab : Pakan berjamur atau terlalu muda, bakteri, virus dan protozoa.

Tanda-tanda : Kotoran encer dan warnanya hijau terang/hijau gelap sampai hijau kekuningan; Kambing lemas, bila dibiarkan dapat menyebabkan kematian; bulu-bulu sekitar dubur kotor akibat kotoran.

Pencegahan : Hindari pemberian pakan yang menyebabkan diare dan  Jagalah kandang tetap bersih.
Pengobatan
  1. Pisahkan kambing sakit dari kambing sehat.
  2. Berikan larutan oralit, larutkan 2 sendok makan garam + 2 sendok makan gula dalam 2,5 liter air dingin yang sudah dimasak.
  3. Bila keadaannya tidak membaik segera hubungi petugas kesehatan hewan (dokter hewan).
Keracunan :
Penyebab : Tanaman beracun atau tanaman yang tercemar pestisida.
Tanda-tanda : Mulut berbusa, kejang-kejang, muka kemerahan dan bengkak, diare berdarah, dan kematian mendadak.
Pencegahan
  1. Jangan menggembalakan kambing di tempat yang banyak tanaman beracun.
  2. Jauhkan kambing dari sawah atau ladang yang sedang dipupukan atau disemprot pestisida.
Pengobatan
  1. Berikan air kelapa
  2. Berikan norit 2-3 tablet.
  3. Hubungi petugas kesehatan hewan (dokter hewan).
PASCA PANEN
Hendaknya diusahakan untuk selalu meningkatkan nilai tambah dari produksi ternak, baik daging, susu, kulit, tanduk, maupun kotorannya. Bila kambing hendak dijual sebaiknya pada saat berat badan tidak bertambah lagi (umur sekitar 1-1,5 tahun), dan permintaan akan kambing cukup tinggi. Harga diperkirakan berdasarkan : berat hidup x (45 sampai 50%) karkas x harga daging eceran.
gambar produk susu kambing
Macam produk susu Kambing
POHON INDUSTRI TERNAK KAMBING
Gambar diagram
ANALISA USAHA TERNAK KAMBING

gambar analisa usaha ternak Kambing

BAHAN BACAAN
Dinas Peternakan DKI Jakarta. 1997. Ternak Kambing. Dinas Peternakan, Jakarta Pusat
Farida Sukmawati dan Sasongko, W.R. 2007. Memanfaatkan Limbah Pertanian untuk Pakan Kambing. Brosur Ternak Kambing No.01/P4MI/2007. Lombok, Nusa Tenggara Barat
Priyanto, D. 2007. Manajemen dan Dinamika Kelompok Usaha Ternak Kambing dan Domba. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan.
Puslitbang Peternakan. 2002. Sistem Usaha Pertanian Berwawasan Agribisnis Berbasis Peternakan. Ternak Kambing. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Bogor.
Sariubang, M., A. Ella dan R. Rahman. 2009. Pengkajian Kambing Marica sebagai Ternak Penghasil Daging Rendah Kolesterol melalui Pakan Rendah Protein dan Lemak di Sulawesi Selatan. Laporan Hasil Kegiatan. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi Selatan. Makassar.
Yohanes, G. Bulu, Sasongko W.R dan Mashur. 2007. Rekomendasi Sistem Usahatani Ternak Kambing pada Lahan Kering di Lombok Timur. Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Penyusun
Matheus Sariubang
Novia Qomariyah

Penyunting dan Redaksi Pelaksana
Amirullah
Syamsul Bachrie
Farida Arief Bulu

Share this article :

Poskan Komentar

 
Support : Bloggerreog | Blogere Wong Ponorogo | Pusat Segala Yang Gratis
Copyright © 2013. DESA PARINGAN - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger